Pengangkring
mas Plenthong
Kategori :
Angkringan
@ 07 Jul 2010 | 07:17:55
Kangen setengah mati atau setengah hidup aku nggak mau terjebak dalam permainan kata - kata. Toh kita sudah kekenyangan dengan permainan kata - kata atau apapun itu namanya tatkala melihat tivi.
Sudah saja lupakan tivi yang memang isinya cuma sandiwara - sandiwara kehidupan masyarakat kita. Bahkan yang katanya berita pun sekarang sudah ngejawantah ataupun memba - memba menjadi sandiwara. Yang saya pikirkan sekarang adalah rasa hati saya yang sudah hampir 1 tahun nggak ngangkring. Tinggal di kota (yang katanya) Kota Minyak tapi ironisnya sedikit pom bengsin. Bahkan akhir - akhir ini terpampang di pintu masuk sebuah tulisan dengan huruf - huruf gedhe sak hoh-hah PREMIUM HABIS. Pernah suatu saat hanya ada satu tempat yang masih punya stok, namun semua grobak yang masuk ternyata tidak dilayani. Mereka hanya melayani kuda besi nyang kate orang Jakarte bikin semrawut.
Seandainya saya masih berkantor di Jakarte tentunya hal ini akan menjadi bahan pembicaraan sambil nyruput teh jahe dan makan tempe tepung yang dibakar. Memang terkadang tampak menggelikan, orang jajan kok nggak percayaan sama tukang angkring (berhubung terkondisi di kota Jakarte maka semua profesi disebut tukang). Tapi ada alasan bagi saya yang (mungkin) dibuat - buat yaitu angka kolesterol saya yang makin naik, maka mencoba mengurangi minyak yaitu dengan cara dibakar. Aroma tempe bakar dan juga usus bakar yang membuat saya kangen untuk ngangkring.
Yup.. ketika saya menginjakkan kaki di pulau Jawa nanti (ketika libur cuti) maka saya akan melampiaskan hajat ngangkring ini. Semoga ada beberapa angkringan yang nggak ikutan cuti. Untuk sekedar mengurangi hasrat ini saya melongok ke situs ini. Situs yang membuat saya menjadi tergila - gila dengan ngeblog. Walaupun saat ini ketiga blog yang saya bikin jadi terlantar. Mulai kedor nggak ngelongok gara - gara di sini mulai sepi. Entah dimana para pengutang - pengutang yang dulu, apa mereka sudah mulai teracuni dengan fesbuk? hanya rusi dan arek.suroboyo yang saya ingat dulu pernah saling menyapa. Meski hanya di dunia maya namun ternyata tidak kosong. Benar demikian saudara? semua saling menyapa seolah duduk di angkringan dan berkelakar.
Huaaaah... seandainya di kota ini ada 1 saja penjual angkring, maka saya akan menjadi member tetap (tetap ngutang he..he..he..)
Mas Plentong ngaturaken sugeng pepangihan malih..


