Harta dan Level Pendidikan
Pengangkring

indoblog
Kategori : Budaya
@ 24 Sep 2005 | 13:40:33


Apa tujuan kita belajar sampai mencapai gelar S1, S2 bahkan S3? Di kalangan masyarakat dari negara berkembang seperti Indonesia, jawaban yang umum adalah: meningkatkan taraf hidup. Dg kata lain, ingin kaya. Setidaknya, dengan gelar minimum S1, kita akan dapat pekerjaan yang agak layak dan tidak jadi pengangguran.

Orientasi sekolah tinggi untuk tujuan kerja layak dan dapat harta banyak sebenarnya wajar, apalagi dalam konteks masyarakat dunia berkembang di mana bahkan untuk mendapat sesuap nasi pun terkadang sangat sulit.

Negatifnya pola pikir semacam ini adalah apabila ia mendominasi mindset seluruh masyarakat yang sebenarnya
beragam alias tidak monolitik. Secara faktual, dari ratusan juta populasi Indonesia, tidak semuanya berlatarbelakang miskin. Ada juga kalangan menengah: yaitu kalangan yang berbackground hidup layak atau sudah menempati posisi jabatan tinggi di pemerintahan atau swasta (ini definisi kelas menengah versi saya, sekedar memudahkan bahasan).

Apabila kalangan menengah yg lumayan beruntung ini juga berpola pikir sama dg mereka yg hidup pas-pasan (sekolah untuk tujuan hidup layak), maka dalam jangka panjang akan merugikan Indonesia, karena beberapa faktor:

Pertama, kalangan yang sudah hidup layak, baik karena keturunan atau sudah mendapatkan pekerjaan mapan dan
bergaji besar (seperti diplomat) menjadi malas untuk melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi (buat apa kuliah lagi, saya sudah kaya, jabatan sudah mapan). Padahal kalangan inilah yg paling berpeluang untuk melanjutkan studi sampai setinggi mungkin (S3) dalam segi biaya.

Kedua, Indonesia akan kekurangan SDM (sumber daya manusia) handal yg sebenarnya dapat ditutupi apabila kalangan menengah yg "sudah kaya" ini mau terus studi. Di sisi lain, banyak kalangan tak beruntung yg ingin studi sampai S3, tapi terhalang biaya.

Ketiga, akan terjadi ketidakefektifan sistem kerja. Kalangan pejabat yg kebanyakan lulusan S1 ini apabila membutuhkan tenaga ahli, maka mereka biasanya akan mengangkat staf ahli yakni kalangan lulusan S3 yg nantinya digaji dg uang negara: mengapa tidak sekalian saja sang tenaga ahli itu yg menjabat sesuai konsep
efektifitas?

Keempat, secara psiko-sosial, kalangan pejabat yg
berpendidikan kurang tinggi umumnya kepeduliannya pada
dunia pendidikan juga kurang (bisa karena cemburu sosial atau memang tidak peduli). Yg paling sinis akan mengatakan:

"Buat apa sekolah tinggi-tinggi, saya cuma S1 tapi bisa hidup layak." (ini mindset orang kaya kampungan) "Buat apa titel DR, saya yg S1 bisa memerintah mereka." (ini yg gila jabatan)

Selain itu, berbagai kebijakan mereka nantinya (dan sudah sering terjadi di era sekarang maupun dulu) terkesan tidak cinta pendidikan dan orang yg berpendidikan, tentu dg berbagai alasan yg tak perlu dibahas di sini.

***

Fenomena di negara maju tentu saja berbeda. Dan itulah salah satu sebabnya mengapa negara mereka menjadi negara maju. Sebagai perbandingan, setiap satu juta penduduk di Amerika memiliki 5000 orang yg bergelar Ph.D sedang di Indonesia dari setiap satu juta penduduk, hanya 600 orang yg bergelar Ph.D.

Saya ambil satu contoh kisah nyata dari negara maju.

Anda yang berhubungan dg internet tentu tahu atau pernah cari info via search engine google.com. Google adalah mesin pencari informasi online yg paling terkenal. Begitu terkenalnya sampai menjadi kosakata bahasa inggris untuk "mencari info online".

Sejak tahun lalu, google menjual sahamnya di bursa saham Wallstreet, New York yg terjual laris manis. Saat ini saham google menjadi saham paling laku dan termahal melebihi aset yg sebenarnya dan nilainya berhasil mengalahkan TIME WARNER CO. yg membawahi majalah TIME dan stasiun tv CNN.

Di sisi lain, google terkenal dg kebijakan "customer friendly"-nya. Konsumen bagai raja. Semua layanan google gratis. Berbeda dg Yahoo! misalnya yg untuk beberapa layanannya harus bayar. Salah satu layanan gratisnya adalah "google scholar" yg dikhususkan untuk mencari bahan tesis dan jurnal dunia bagai kalangan mahasiswa S2 dan S3. Dg demikian, pemilik google tentu saja kaya raya. CEO (chief executive officer) nya saja adalah mantan CEO IBM.

***

Siapa pendiri dan pemilik google? Ada dua orang, namanya Sergey Brin (asal Rusia) dan Larry Page (Amerika). Mereka mendirikan google pada waktu sama-sama kuliah S1 di University of Michigan pada usia sekitar 25 tahun.

Dg pesatnya perkembangan google, keduanya menjadi kaya
raya dalam sekejap. Namun, itu tidak menghentikan mereka untuk melanjutkan studi. Saat ini, keduanya sedang menempuh Ph.D di universitas yg sama dalam jurusan komputer. Berbagai penghargaan pencapaian (achievement) telah mereka terima, namun itu tidak menghentikan mereka untuk terus berkarya dan meneruskan kuliah sampai Ph.D.

Karena studi bagi keduanya bukan hanya untuk mencari harta, popularitas atau kedudukan saja (yg semuanya sudah mereka capai dalam usia sangat muda); juga bukan karena sekedar kewajiban akademis untuk peningkatan status kepegawaian, dll.

Studi tinggi adalah simbol kepakaran (walau tak semua
Ph.D pantas disebut pakar). Ia juga simbol dari "sampai di finish line": seorang pantas disebut bermental juara apabila dia mencapai finish line (walau tidak harus menang dalam kompetisi itu). Ia mewakili sebuah ambisi untuk terus maju demi kualitas dirinya dan kualitas bangsanya.

Kebijakan google yg "educational and educated-people
friendly" juga menguatkan asumsi saya di atas: bahwa
untuk mencintai dunia pendidikan dan menyayangi semua
hal yg berkaitan dg pendidikan tidak bisa dilakukan oleh orang yg pendidikannya rendah. Banyak kasus di Indonesia, seperti kebijakan pemerintah yg tak "educational friendly"; sikap pejabat yg terkesan sekedar "bermanis muka" terhadap mahasiswa semakin memperkuat statemen di atas.

Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Larry Page dan Sergey Brin menduduki berbagai posisi penting di pemerintahan. And we need it very badly, to make our country much better than it's actually been.

Presiden SBY telah memberi contoh bagus dg tetap kuliah sampai mencapai gelar Ph.D di tengah-tengah kesibukannya bekerja. Di India, peluang itu lebih besar lagi. Hampir setiap universitas negeri di India memiliki program "non-regular" bagi mereka yg sudah disibukkan rutinitas pekerjaan tapi masih ingin melanjutkan studi. Bagi diplomat yg rata-rata bertugas sekitar tiga tahun, ini kesempatan luas untuk mengambil program S2 yg hanya dua tahun, atau S3 yg dapat ditempuh dalam tiga tahun. Apalagi untuk kalangan staf lokal.

Untuk apa, saya 'kan sudah tua? (a) Untuk menambah daftar insan bergelar Ph.D; (b) Untuk menambah wawasan dan semakin cinta dunia pendidikan; (c) Untuk memberi contoh pada generasi berikutnya (termasuk anak-anak sendiri) bahwa betapa pentingnya studi sampai tingkat tertinggi, ("Bapak saja yg sudah tua masih belajar, kenapa kalian yg masih muda-muda kok malas-malasan?")

Bagi rekan-rekan muda, jangan pernah mimpi hidup sukses di masa depan hanya dg bermalas-malasan. Tidak ada keberhasilan yg dicapai dg hanya mimpi di siang bolong (karena malemnya habis begadang).***

Sumber: Refleksi Blogger Indonesia

Informasi Beasiswa Lengkap
Blogger Indonesia http://afsyuhud.blogspot.com
Bagus

Ray ngangkring @ 26 Sep 2005 | 20:44:46

bagus, postingannya selain bagus juga berwawasan luas. Beginilah yg kita cari.

Memang belajar bukan hanya untuk meningkatkan status saja, tapi terlebih kepada mencari ilmu itu sendiri (bagi yg peduli), meski bagi sebagian orang adalah untuk membuang waktu :)

Tuntutlah ilmu meski sampai ke negeri china

Menu
Member menu
Username

Password


Lost Password ?
New User Join Now
Getok Tular
» 30 Jul 2010 | 05:21:09
Walau hanya sekedar buka-buka aja, ku tetap setia mengunjungi angkringan...ya...ba rangkali ada yang baru.
» 29 Jul 2010 | 05:39:23
rekan-rekan (terutama yg di jogja), saya ingin berlangganan majalah bahasa jawa -djaka lodang- tetapi kesulitan menghubungi redaksi/adminnya, adakah yg mengetahui kontaknya (nomer telepon, atau alamat emailnya). matur nuwun..
» 14 Jul 2010 | 18:12:36
permisi mas dan mbakyu,
» 01 Jul 2010 | 19:39:04
ngangkring ah...sopo ngerti ono obrolan ttg aril lunatari versus gayus susno diantara hiruk pikuk world cup africa
» 11 Jul 2010 | 19:27:10
akhirnya tuan meneer kumpeni harus nyonyor di sruduk matador sampek ndlosor
» 01 Jul 2010 | 07:05:57
kulonuwon mas-mas, mbak-mbak kolu bade derek ngangkring.
» 19 Jun 2010 | 13:03:25
Salam.... semoga bermanfaat.
» 12 Jun 2010 | 08:57:20
Musime bal-balan, kapan yo kiro-kiro Indonesia biso tampil ing world cup...
Silahkan Login / Register Untuk isi shoutbox
Banner