Donum Theo
Kategori :
Plesiran
@ 22 Nov 2007 | 08:38:13
teman-teman, ada pasar baru di pakuncen yaitu pasar klithikan pakuncen yogyakarta. mungkin ada yang sudah bertandang ke sana untuk sekedar cuci mata atau bahkan ada yang sudah nyang-nyangan dengan para pedagang klithikan demi mendapatkan barang yang diinginkan. keberadaan pasar ini menggantikan pasar hewan pakuncen yang terletak di jalan hos cokroaminoto, dekat sman 1 teladan jogja, sebelah utara perempatan wirobrajan. bangunannya tingkat tiga dengan satu lowerground yang dibagi dalam empat blok besar. setiap los ada 6-8 petak yang masing-masing berukuran sekitar 2x2 meter persegi tanpa dinding penyekat dengan satu bungker penyimpanan barang dagangan.
kesan pertama rapi, teratur, tertib, bersih, dan konsep yang luar biasa untuk sebuah pasar tradisional.
dari namanya saja sudah jelas menunjukkan bahwa pasar ini khusus untuk jual beli barang-barang yang boleh dikategorikan sebagai hasil klithik atau klithih. bahasa indonesianya itu loak atau bekas. jadi pasar klithikan adalah tempat jual beli barang-barang bekas. mungkin kondisi barang kelihatan masih mulus atau baru, yah 99% baru lah .. tapi tetap saja bekas milik orang lain, atau bahkan bekas curian ... hahahaha
sejak era 80an, saya sudah akrab dengan istilah klithikan. awalnya dari kata klithih, yaitu aktivitas berjalan-jalan santai sembari awas mata memandang barang-barang orang lain yang bisa dibawa pulang, alias maling. hahahaha ... ya begitulah kira-kira terjemahan bebas klithih di zaman saya kecil. sampai saya mendengar istilah klithikan untuk tempat jual beli barang-barang bekas. dulu saya pikir klithikan adalah tempatnya orang-orang jahat berkumpul, maling, penadah, dan sebagainya. dan itu semakin menguat ketika ibunda menyebut klithikan sebagai pasar lanang, pasar yang penuh dengan laki-laki.
tapi sekarang citra negatif di benak saya sudah memudar mengikuti cara pandang saya terhadap gerakan sosial ekonomi bagi kalangan menengah ke bawah itu. tak beda jauh dengan angkringan. angkringan dan klithikan adalah bentuk perjuangan sosial ekonomi bagi sebagian kalangan masyarakat perkotaan. dulu angkringan itu hadir untuk tukang becak, pemulung, atau orang-orang miskin (hampir tiada suara sopran); dengan uang 500 rupiah anda bisa makan nasi dengan lauk kering tempe atau ikan teri, plus teh manis dan sebatang rokok (kalau sekarang ya kurang lebih 2rb-an lah). nah di klithikan itu anda bisa beli tempat lilin, piring, sekrup, sepatu bal-balan, bedhil, pompa, foto bung karno, dll dengan setengah harga barang baru atau bahkan seperempat harga baru.
zaman berkembang. angkringan berubah jenis pengunjung dan fungsinya. demikian juga klithikan. barang yang diperdagangkan lebih beragam, banyak pengunjung yang pakai pomit, mulus, cantik ber-levenstick. yuph, sebagaimana angkringan, klithikan sekarang adalah pusat gaulnya jogja. bosan pacaran di lembah ugm, datanglah ke klithikan. dijamin romantis abis. hahaha
seperti yang teman-teman ketahui, pasar klithikan pakuncen adalah gabungan dari klithikan mangkubumi, pasar kranggan, alun-alun selatan, prapatan ngasem, dan beberapa sudut lokasi di pinggiran jalanan kota jogja. ratusan pedagang berkumpul di sana dengan omzet harian mencapai ratusan ribu rupiah. sebuah koran lokal menyebutkan transaksi harian mencapai ratusan juta rupiah. ada kamera kuno yang rusak dijual seharga 950rb dan di sebelahnya dijual sebuah tutup panci bekas seharga seribu rupiah. teman-teman mau menjual barang di sini juga bisa lho. langsung jual di pasar atau nitip ke pedagang. saya sempat lihat titipan satu set papan catur dengan bidak kayu berukirkan wayang jawa, sangat indah, harganya hampir sejuta.
nah, saya sendiri sedang ingin memperbaiki sepeda onthel saya. di klithikan itu saya mengincar beberapa suku cadang yang dibutuhkan, misalnya standar tengah seharga 15rb, terus lampu depan plus dinamo seharga 15rb, terus boncengan seharga 15rb. mungkin kalau saya bawa 200rb sudah bisa beli suku cadang sepeda onthel lengkap nan komplit. bahkan ada rangka sepeda onthel yang cukup unik bentuknya, dibandrol 125rb. dugaan kuat menyeruak dalam sanubari dompet saya bahwa mereka masih dapat dibawa pulang dengan setengah harga saja. tinggal pasang rai gedheg dan urat leher yg kuat, serta tampang memelas. hahaha
sudahkan Anda bertandang ke pasar klithikan pakuncen? datangilah dan temukan budaya di sana!
















